Tuesday, April 17, 2012

Penginapan Bernama “Bas”


Salah satu strategi irit ketika traveling, adalah memilih perjalanan mulai tengah malam jika perjalanan tersebut memakan waktu selama lebih dari empat jam waktu perjalanan, dengan maksud agar sampai di tempat tujuan di subuh atau pagi hari. Beberapa moda transportasi yang sering memakan waktu selama itu adalah bus yang dibaca “bas” jika berada di Malaysia.

Ini hari terakhir aku di Penang (checkout dari guesthouse jam 12 siang), ketika reservasi tiket “bas” malam untuk menuju Kuala Lumpur (35 Ringgit), dengan memilih jam pemberangkatan terakhir pada pukul 12.00  malam, maksudku adalah aku akan tiba di Kuala Lumpur jam empat atau jam lima pagi. Jam 11 malam aku dijemput untuk menuju komtar (sejenis terminal), hanya aku dan dua orang kawan saja di dalam sedan jemputan itu. Sesampainya di komtar, aku langsung menukar bukti pembayaran dengan tiket “bas” dan langsung masuk ke “bas”.

Tuesday, April 10, 2012

More Places Please...

Saving Money, Spending Money, For Journey. Sampai hari ini...


Sudah berjalan menuju 3 tahun rutinitas ini aku jalani, aku berdoa untuk terus bisa berjalan mengunjugi tempat-tempat di belahan dunia ini. Meminjam ungkapan seorang kawan yang aku temui di perjalanan "Dimanapun terdapat orang hidup maka kita bisa hidup disana, mempelajari gaya hidup mereka, agar kita tidak sombong dengan gaya hidup kita sendiri.

*Gambar diedit dan diambil dari http://maps.nationmaster.com/country/id/1

Sunday, April 8, 2012

Friday, April 6, 2012

Baby Duck Inside ?

Mengayuh pedal sepeda nyaris sudah, pandanganku ke kiri dan ke kanan, nyaris tak pernah lurus ke depan.

Matahari tepat berada di atasku sepertinya, sudah aku dapatkan warung lokal di pinggiran Angkor Wat, aku letakkan sepeda nyaris sembarangan. Kulihat “termos” yang berisi nasi namun ternyata tidak, isi termos tersebut adalah beberapa daging ikan dan ayam yang didinginkan. Jatuh semangatku, namun kembali lagi ketika aku tanya  dan ternyata mereka punya mie instan.

Aku dan 2 orang kawan tanpa banyak pikir memesan masing-masing 1 porsi mie instan oleh seorang ibu di warung itu, kami berbincang dengan seorang pemuda asli setempat untuk sekedar “membunuh” waktu menunggu mie instan siap disajikan. Moon nama pemuda tersebut, seorang driver Tuk-Tuk di sekitar Angkor Wat, dan bisa berbahasa Inggris dan Jepang. Sampailah pada percakapan, “telur apa yang di atas meja ini ??” aku bertanya, “telur bebek, mau coba ??” jawabnya cepat dan kemudian dilanjutkan dengan kalimat “baby duck inside egg...”.

Wednesday, April 4, 2012

Pak Abdulrahman

Seperti bingung akan melakukan apa, kata mereka kami harus menyewa boat untuk melihat “Si Purba”

Sedikit lewat tengah siang aku dan 2 orang kawan tiba di Kampung Rinca, menggunakan “ojek” boat yang setiap pagi datang ke Labuan Bajo dan kemudian tengah hari kembali ke kampung Rinca di pulau Rinca. Untuk membeli kebutuhan sehari-hari masyarakat kampung Rinca, atau sekedar menjadi alat transportasi antar pulau, dengan ongkos mulai dari Rp. 10.000,-  setiap hari ojek itu ada, kecuali hari Jum’at saja. Supir boat ini bukan Pak Abdulrahman, namun bang Toni.

Sekarang aku berada di dermaga kampung Rinca yang masih kokoh, dengan dikelilingi anak-anak asli kampung Rinca, aku sedang bingung akan bagaimana menuju Loh Buaya yang diyakini sebagai spot paling banyak manusia dapat melihat Komodo. Beberapa kali mengambil gambar di dermaga tersebut, sambil berharap keajaiban datang kepadaku dan kawan-kawan ini.


Monday, April 2, 2012

Juara Calo

Ketika kaki berjalan dengan cepat, lelah membawa backpack, mata lurus ke depan.

C: Mau kemana mas ??
E: Denpasar...
C: Sudah dapat tiketnya mas ??
E: Sudah...
C: Naik bis apa mas ??
E: Handoyo...
C: Seat nomor berapa mas ?? coba liat tiketnya ??
C: Sampean jawab kalo ditanya !!!

Sungguh gila !! Berkali-kali percakapan ini terjadi ketika aku dan kawan-kawan ingin melanjutkan perjalanan dari terminal Bungurasih di Surabaya menuju terminal Ubung di Denpasar. Tentu saja ini menjadi pengalaman yang tidak mengenakkan dan sekaligus sangat mahal. Aku yang telah banyak keluar-masuk terminal di daerah Indonesia ketika melakukan trip saja sangat merasa risih, apa kabar dengan kawan-kawan yang baru pertama kali melakukan trip dan mengandalkan terminal bus sebagai tempat untuk mencapai tujuan ?.