Friday, June 29, 2012

East Borneo Trip

Tentang tangan yang baru pertama kali membuat video.



Bagian pertama dari perjalananku di Kalimantan Timur, Indonesia. Sedikit memperlihatkan kekayaan alam pulau Kalimantan kepada khalayak ramai dari sisi jalan yang berantakan. Aku beruntung memilih jalan berantakan ini untuk menuju pulau Derawan, ternyata kekayaan alam yang dimiliki Kalimantan tidak membuat pasti megahnya sebuah pulau bernama Kalimantan. Jalanan yang rusak, hutan yang dirusak, tentang mengantri BBM, Aku mengabarkan dari Kalimantan di sisi timur.

*dalam perjalananku pada bulan Maret 2012

Friday, June 1, 2012

Bermain Dengan Jellyfish


Menjadi purba...

Haiiiiiiii Jelly..!!!
Kurang beruntung hari Sabtu itu turun hujan lebat sedari subuh, dan sampai hari ini aku masih sedikit menyesal kenapa memilih hari sabtu yang ramai dengan para turis untung melakukan hopping islands, tapi itu semua terbayar dengan eksotisme pulau Kakaban. Pagi itu Kakaban menunjukkan keajaibannya.

Masih terletak dalam gugusan kepulauan Derawan, pulau Kakaban berjarak hampir 1 jam dari pulau Derawan jika ditempuh menggunakan speed boat berkapasitas 5 orang. Pulau yang termasuk destinasi wajib ketika berkunjung ke Derawan  ini sesungguhnya didominasi oleh luas danau yang tepat berada di dalamnya, disebut juga sebagai danau Kakaban, danau tersebut merupakan air laut yang terperangkap jutaan tahun lalu, ditambah dengan air tanah dan air hujan, jadilah air di danau Kakaban menjadi agak tawar.

Friday, May 4, 2012

Banyak (ber)jalan di Saigon

 Malam pertama..

Get lost !
Pesawat landing dengan mulus di Tan Sonat Airport Saigon, jam di arah 7.30 malam waktu setempat. Seperti biasa, tanpa bagasi dan basa-basi aku dan 2 orang kawan berjalan cepat mencari pintu keluar, tentu saja public bus yang aku buru di kedatanganku yang pertama kali di Vietnam. Belum berjodoh aku dan public bus malam itu, setelah bolak-balik antara international-domestic terminal mencari bus, sesekali berlari ke arah bus yang kukira public bus, akhirnya aku berdiskusi dengan dua orang kawan tentang bagaimana kelanjutan malam ini, keputusannya kami akan berjalan keluar airport dan mencari arah menuju Pham Ngu Lao St, yang ditaksir sebagai pusat berkumpulnya kaum backpacker di Saigon.

Tuesday, April 17, 2012

Penginapan Bernama “Bas”


Salah satu strategi irit ketika traveling, adalah memilih perjalanan mulai tengah malam jika perjalanan tersebut memakan waktu selama lebih dari empat jam waktu perjalanan, dengan maksud agar sampai di tempat tujuan di subuh atau pagi hari. Beberapa moda transportasi yang sering memakan waktu selama itu adalah bus yang dibaca “bas” jika berada di Malaysia.

Ini hari terakhir aku di Penang (checkout dari guesthouse jam 12 siang), ketika reservasi tiket “bas” malam untuk menuju Kuala Lumpur (35 Ringgit), dengan memilih jam pemberangkatan terakhir pada pukul 12.00  malam, maksudku adalah aku akan tiba di Kuala Lumpur jam empat atau jam lima pagi. Jam 11 malam aku dijemput untuk menuju komtar (sejenis terminal), hanya aku dan dua orang kawan saja di dalam sedan jemputan itu. Sesampainya di komtar, aku langsung menukar bukti pembayaran dengan tiket “bas” dan langsung masuk ke “bas”.

Tuesday, April 10, 2012

More Places Please...

Saving Money, Spending Money, For Journey. Sampai hari ini...


Sudah berjalan menuju 3 tahun rutinitas ini aku jalani, aku berdoa untuk terus bisa berjalan mengunjugi tempat-tempat di belahan dunia ini. Meminjam ungkapan seorang kawan yang aku temui di perjalanan "Dimanapun terdapat orang hidup maka kita bisa hidup disana, mempelajari gaya hidup mereka, agar kita tidak sombong dengan gaya hidup kita sendiri.

*Gambar diedit dan diambil dari http://maps.nationmaster.com/country/id/1

Friday, April 6, 2012

Baby Duck Inside ?

Mengayuh pedal sepeda nyaris sudah, pandanganku ke kiri dan ke kanan, nyaris tak pernah lurus ke depan.

Matahari tepat berada di atasku sepertinya, sudah aku dapatkan warung lokal di pinggiran Angkor Wat, aku letakkan sepeda nyaris sembarangan. Kulihat “termos” yang berisi nasi namun ternyata tidak, isi termos tersebut adalah beberapa daging ikan dan ayam yang didinginkan. Jatuh semangatku, namun kembali lagi ketika aku tanya  dan ternyata mereka punya mie instan.

Aku dan 2 orang kawan tanpa banyak pikir memesan masing-masing 1 porsi mie instan oleh seorang ibu di warung itu, kami berbincang dengan seorang pemuda asli setempat untuk sekedar “membunuh” waktu menunggu mie instan siap disajikan. Moon nama pemuda tersebut, seorang driver Tuk-Tuk di sekitar Angkor Wat, dan bisa berbahasa Inggris dan Jepang. Sampailah pada percakapan, “telur apa yang di atas meja ini ??” aku bertanya, “telur bebek, mau coba ??” jawabnya cepat dan kemudian dilanjutkan dengan kalimat “baby duck inside egg...”.