Mengayuh pedal sepeda nyaris sudah, pandanganku ke kiri dan ke kanan, nyaris tak pernah lurus ke depan.
Matahari tepat berada di atasku sepertinya, sudah aku dapatkan warung lokal di pinggiran Angkor Wat, aku letakkan sepeda nyaris sembarangan. Kulihat “termos” yang berisi nasi namun ternyata tidak, isi termos tersebut adalah beberapa daging ikan dan ayam yang didinginkan. Jatuh semangatku, namun kembali lagi ketika aku tanya dan ternyata mereka punya mie instan.Aku dan 2 orang kawan tanpa banyak pikir memesan masing-masing 1 porsi mie instan oleh seorang ibu di warung itu, kami berbincang dengan seorang pemuda asli setempat untuk sekedar “membunuh” waktu menunggu mie instan siap disajikan. Moon nama pemuda tersebut, seorang driver Tuk-Tuk di sekitar Angkor Wat, dan bisa berbahasa Inggris dan Jepang. Sampailah pada percakapan, “telur apa yang di atas meja ini ??” aku bertanya, “telur bebek, mau coba ??” jawabnya cepat dan kemudian dilanjutkan dengan kalimat “baby duck inside egg...”.



